Ajari Bakteri Memakan Kafein Kopi

Ajari Bakteri Memakan Kafein Kopi

Bak cerita fiksi ilmiah, para ilmuwan kini tengah melatih bakteri untuk memakan dan menghancurkan kafein yang terkandung dalam tanaman kopi. Jika sukses, maka hasilnya adalah kopi alami tanpa kafein dengan rasa yang lebih nikmat.

Kopi mengandung banyak kafein karena tanaman kopi menghasilkan kopi dengan sangat cepat sementara penghancurannya sangat lambat,” terang Justin Gallivan, pakar kimia dari Emory University di Atlanta, Amerika Serikat.

“Kami akan menciptakan bakteri yang bisa menghancurkan kafein dengan cepat. Untuk itu, kami akan membuat bakteri (pemakan kafein) bergantung pada kafein untuk kehidupan mereka,” terangnya. (lebih…)

Iklan

Februari 18, 2008 at 12:51 am Tinggalkan komentar

Fullerene, Material Unik Harapan Masa Depan

Fullerene, Material Unik Harapan Masa Depan
Ratno Nuryadi (Shizuoka University)

FULLERENE, mungkin belum banyak dikenal. Namun, jenis material ini sebenarnya tengah mendapat perhatian yang luar biasa, khususnya para peneliti teknologi nano. Selain menarik dikaji secara ilmiah, fullerene juga berpotensi besar diaplikasikan dalam berbagai bidang. Penemu material tersebut, meraih penghargaan Nobel bidang kimia tahun 1996.

Satu nano-meter sama dengan sepermiliar meter. Sebelum penemuan itu, para ahli kimia karbon tidak menyangka bahwa akan ditemukan material lagi dari unsur karbon.

Fullerene tersusun dari unsur murni karbon berjumlah 60 atom (dikenal dengan C60) atau lebih yang antara satu dengan lainnya terhubung dengan ikatan kimia berjenis orbital sp3. Selama ini telah dikenal beberapa jenis fullerene seperti C60, C70, C120, dan lain-lain. Dari jenis tersebut, C60 merupakan material yang paling populer karena yang ditemukan pertama dan berbentuk unik seperti bola sepak.

Sebelum fullerene muncul, para ahli kimia karbon beranggapan bahwa tidak ada lagi material dari unsur karbon yang lebih stabil dari berlian dan grafit. Karena itu, munculnya fullerene dengan komposisi unsur karbon simetris dan bentuk yang elok, amat menyegarkan iklim penelitian di bidang kimia karbon. Penemuan fullerene memicu ditemukannya material baru bernama carbon nanotube (disingkat CNT) berbentuk pipa, yang tidak kalah penting di bidang teknologi nano.

Kalau awalnya para ahli hanya mengakui kalau zat C60 bersifat stabil, maka baru pada tahun 1990, dua peneliti bernama W Kratschmer dari Jerman dan D Huffman dari Amerika dalam suatu kerja sama penelitian, berhasil memproduksi C60 dalam skala besar dengan metode baru. Hasilnya, bentuk C60 bisa diukur dan dibuktikan memang seperti bola sepak seperti prediksi penemunya.

Hasil eksperimen tersebut menguatkan keberadaan fullerene dan sekaligus membuat penasaran para peneliti untuk menguji karakteristiknya. Maka menjamurlah penelitian dengan fokus fullerene dari berbagai macam disiplin ilmu.

DILIHAT dari sifat penghantar listrik, pada umumnya fullerene bersifat isolator. Tetapi, jika logam alkali didoping/dimasukkan ke dalam fullerene, maka pada suhu ruangan material ini akan bersifat sebagai logam. Telah ditemukan juga, jika unsur “kalium” yang didopingkan, benda tersebut berubah menjadi superkonduktor.

Tahun 2001 ditemukan lagi keunikan material baru tersebut, yakni bahwa fullerene bersifat sebagai magnet pada suhu dan tekanan yang tinggi. Dengan metode lain bisa didapatkan pula fullerene yang bersifat sebagai semikonduktor. Begitulah, banyak fenomena-fenomena unik yang muncul dari fullerene ini, yang mungkin masih akan terus bertambah.

Sifatnya penghantar fullerene yang bisa dikontrol, struktur dalam ukuran nanometer, dan sifat kimiawi yang stabil inilah yang menarik perhatian para peneliti karena yakin bisa diaplikasikan di bidang elektronika terutama kuantum.

Sekarang saja telah banyak perusahaan-perusahaan elektronika, terutama di Jepang (seperti Toshiba, Sumitomo Kagaku, Osaka Gas, Mitsubishi Kagaku, dan lain-lain) memakai material fullerene untuk mengembangkan solar cell (penghasil energi dari sinar matahari). Selain cost-down yang memungkinkan, fullerene berpotensi menghasilkan solar cell dengan efisiensi yang lebih tinggi dibanding solar cell dari poli-silikon sekarang.

Fullerene juga berpotensi digunakan dalam pengembangan fuel cell, sebagaimana dilakukan grup peneliti di Institut Teknologi California dan perusahaan Sony Jepang. Fuel cell adalah jenis baterai pembangkit energi listrik dari reaksi kimia antara gas hidrogen dan oksigen. Karena output-nya hanya menghasilkan air saja, teknologi ini tidak polusif dan sangat ramah lingkungan.

Dalam baterai fuel cell, penggunaan fullerene diharapkan bisa menghasilkan fuel cell dalam ukuran kecil yang tidak bisa direalisasikan dengan bahan yang dipakai sekarang.

APLIKASI lain dari fullerene adalah untuk hardisk komputer, karena fullerene punya sifat magnet dalam kondisi tertentu. Fullerene juga bisa diaplikasikan dalam bidang kesehatan.

Konon, fullerene berpotensi untuk mencegah perkembangan virus HIV (Human Immunodeficiency Virus), yang berarti memungkinkan dipakai sebagai obat AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome).

Begitu kaya untuk dikaji secara keilmuwan dan besarnya potensi yang dimiliki fullerene ini, membuat ketiga penemunya mendapat penghargaan Nobel bidang kimia pada tahun 1996.

Februari 7, 2008 at 3:01 pm Tinggalkan komentar

PBB Tambahkan Daftar Bahan Kimia Berbahaya Terlarang

Senin lalu (9/20) PBB menambahkan bahan-bahan kimia dan pestisida sebanyak 14 jenis sebagai bahan beracun dan dilarang untuk diperdagangkan, termasuk timbal yang sering ditambahkan pada petrolium.

Sesuai konvensi Rotterdam, bahan-bahan seperti itu hanya dapat diekspor dari suatu negara ke negara lain dengan ijin dari pemerintah negara importir. “Hal ini untuk mengurangi resiko terhadapa manusia dari bahan-bahan kimia berbahaya yang masih dipakai secara luas,” kata Jim Willis, sekretaris eksekutif pakta PBB.

Keputusan itu juga meliputi beberapa jenis asbes, yang diyakini sebagai penyebab kanker, tidak boleh diperdagangkan secara bebas antar negara. Namun chrysotile, sebuah jenis asbes yang paling umum, dicoret dari daftar larangan ini setelah negara-negara pembuat chrysotile termasuk Kanada dan Rusia menghalangi pencantuman bahan ini dalam daftar bahan berbahaya terlarang.

Sebuah kelompok konservasi WWF menanggapi dengan marah atas pembatalan ini. Dikatakan, chrysotile yang merupakan 94 persen penggunaan asbes di dunia, semestinya layak untuk dimasukkan daftar bahan terlarang.

Perjanjian ini telah diratifikasi oleh lebih dari 70 negara. Untuk kasus chrysotile, tiga kawasan yang diwakili Australia, Chili dan Uni Eropa telah mengambil langkah-langkah berdasarkan penemuan bahan bahan ini bersifat karsinogen (pemicu kanker), sebut WWF.

“Keberatan Kanada dan Rusia untuk mencantumkan asbes jenis chrysotile adalah untuk kepentingan pribadi yang memalukan, melindungi eksportir dalam negeri yang menjual bahan berbahaya ini ke luar negeri,” kata Clifton Curtis, direktur WWF’s Global Toxics Programme.

Februari 2, 2008 at 1:52 pm Tinggalkan komentar

Yodium Tidak Rusak atau Hilang dalam Pemasakan..!

Yodium Tidak Rusak atau Hilang dalam Pemasakan..!
Iman Sumarno (Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi dan Makanan)

MAKALAH ini ditulis karena adanya kontroversi dalam masyarakat tentang garam beryodium. Di satu pihak masyarakat dianjurkan untuk mengonsumsi garam beryodium, namun di lain pihak ada informasi yang menyatakan bahwa sebagian besar yodium dalam garam rusak pada saat proses pemasakan, bahkan bila digunakan membuat sambal atau masakan dengan cabai yang dihaluskan dan penambahan cuka yodium akan hilang. Sehingga masyarakat dianjurkan untuk menambahkan garam beryodium setelah makanan masak.

Apabila ini benar, maka gugur semua teori dan upaya untuk mencegah gangguan akibat kekurangan yodium (GAKY) dengan yodisasi garam yang sudah dilakukan lebih dari 20 tahun. Ini berarti, apa yang dilakukan pemerintah selama ini, merupakan pekerjaan mubazir yang sia-sia. Namun sebelum kita menarik kesimpulan yang begitu drastis fakta justru menunjukkan bahwa yodisasi garam sangat efektif dalam menanggulangi GAKY. Hal ini ditunjukkan oleh penelitian-penelitian maupun dalam program penanggulangan GAKY di dalam negeri maupun beberapa negara di dunia.

Bukti empiris dari pengalaman di banyak negara di dunia dari Amerika Utara, Amerika Latin, Asia, dan Afrika, menunjukkan bahwa garam yodium sangat efektif dalam penanggulangan GAKY. Ketidakefektifan umumnya terjadi justru karena kegagalan pasokan, seperti di Afrika dan Mediteran. Di Guatemala, fluktuasi pasokan garam beryodium justru semakin memperkuat bukti bahwa garam beryodium sangat efektif untuk menanggulangi masalah GAKY. Pada awal program yodisasi garam terjadi penurunan prevalensi gondok. Saat terganggu pasokan garam beryodium karena peperangan, prevalensi gondok kembali meningkat.

Setelah situasi normal pasokan garam beryodium dapat berlangsung secara lancar, prevalensi gondok turun drastis. Hal ini membuktikan bahwa yodium masih ada dan dapat dimanfaatkan oleh tubuh. Apalagi jenis bumbu yang digunakan negara Amerika Latin pun banyak menggunakan lada dan cabai. Jadi, kalau ada yang menyatakan bahwa yodium hilang maupun rusak dalam pemasakan mesti ada sesuatu yang keliru.

Sebenarnya, sudah dilakukan upaya untuk menjelaskan kebenaran masalah ini oleh departemen terkait dan Unicef, bahwa informasi rusaknya dan hilangnya garam beryodium dalam pemasakan adalah tidak benar. Namun, kontroversi masih tetap ada di masyarakat umum, pejabat, bahkan ilmuwan. Lebih ironis lagi, pertanyaan ini muncul dalam Seminar Nasional GAKY yang di adakan 4-6 November 2001 di Semarang, dan bahkan masih ada para ahli gizi pada awal Juli 2002 saat Kongres Persatuan Ahli Gizi dan Temu Ilmiah di Jakarta yang masih menganggap bahwa yodium rusak atau hilang dalam pemasakan menggunakan cabai atau cuka.

Kronologis pemasakan

Pada tahun 1996 suatu penelitian dilakukan di Bali untuk mengukur kadar yodium dalam sayuran dengan cabai dan masakan dengan menggunakan metode yodometri. Metode ini dapat mendeteksi yodium bila kadarnya paling rendah 10 ppm. Hasilnya, tidak ada yodium yang dapat dideteksi. Begitu melihat hasil ini peneliti langsung memaparkan hasil penelitiannya dalam suatu pertemuan, yang pada intinya menyatakan yodisasi garam untuk penanggulangan GAKY tidak ada gunanya.

Untuk mengetahui kebenaran dari hasil penelitian ini, Puslitbang Gizi juga melakukan penelitian yang sama, hanya metode yang digunakan lebih teliti yaitu dengan Wet Digestion yang kemudian dibaca dengan colorimetry. Dengan cara ini kadar yodium serendah-rendahnya 1 ppm dapat didieteksi. Hasilnya juga sama, namun karena menggunakan alat yang lebih sensitif masih 15 persen yodium yang terdeteksi. Hasil analisis ulang terhadap campuran garam beryodium 40 ppm dan 80 ppm juga serupa. Analisis pada masakan dengan dua jenis cabai yang berbeda serta penambahan cuka yang berbeda menunjukkan yodium yang masih dapat dideteksi berkisar antara 14 persen sampai 22 persen untuk penambahan garam dengan yodium 40 ppm dan antara 10 persen sampai 17 persen pada penambahan yodium 80 ppm.

Dengan penambahan cabai merah saja yodium yang terdeteksi hanya 22,9 persen pada yodium 40 ppm, namun hanya 17,3 persen pada yodium 80 ppm. Penambahan cabai rawit mengakibatkan yodium yang terdeteksi menjadi lebih rendah, dibandingkan dengan cabai merah. Pada kadar yodium 40 ppm yodium yang terdeteksi 17,9 persen, sedangkan pada yodium 80 ppm yang terdeteksi 15,1 persen.

Penambahan cuka ternyata juga memperkecil yodium yang dapat terdeteksi dengan metode Wet Digestion sampai 11,6 persen pada penambahan garam dengan kadar 80 ppm.

Berdasarkan temuan ini disimpulkan bahwa sebagian besar yodium hilang dalam pemasakan, terutama bila dimasak dengan cabai dan apalagi bila ditambah cuka. Beberapa mereka-reka kejadian ini dengan menghubungkan sifat yodium dalam bentuk I2 yang mudah menguap. Untuk menyelamatkan program yang sudah dilaksanakan dan mengurangi kesia-siaan dari yodisasi garam, keluarlah anjuran untuk membubuhkan garam setelah hidangan masak (matang). Usulan sederhana yang tidak sederhana seperti yang telah dibahas di atas.

Kebenaran penelitian

Namun, upaya pembuktian masih belum memuaskan semua orang. Hal ini didasarkan kepada fakta, contoh, dan bukti empiris dari penggunaan garam beryodium di dunia. Karena itu, pada tahun 1999 dua penelitian telah dilakukan oleh Puslitbang Gizi dengan bantuan dana dari Unicef.

  1. Penelitian laboratorium yaitu dengan pelabelan di yodium dengan metode radio isotop untuk melacak yodium dari garam dalam masakan.
  2. Penelitian epidemiolgi, mengukur kadar yodium dalam urine murid wanita SLTA di Yogyakarta (daerah bukan pengonsumsi cabai), Bukittinggi (daerah pengonsumsi cabai merah), dan Tombatu serta Kawangkoan di Sulawesi Utara (daerah pengonsumsi cabai rawit). Penelitian ini dilakukan untuk membuktikan apakah yodium dalam garam yang dimasukkan ke dalam masakan masih dapat dimanfaatkan oleh tubuh.

Dua hasil penelitian ini saling menunjang. Penelitian laboratorium menunjukkan bahwa yodium masih ada di dalam masakan, dan yodium yang masih ada dalam masakan dapat dicerna tubuh, yang ditunjukkan dengan tingginya kadar yodium dalam urine anak sekolah di ketiga daerah penelitian. Penelitian dengan yodium yang diberi label menunjukkan bahwa penggunaan cabai dalam masakan, 90 persen masih dapat dideteksi di dalam makanan. Penambahan cuka makan 25 persen selain cabai mengakibatkan yodium yang dideteksi masih 77 persen.

Penelitian kadar yodium dalam urine di tiga daerah menunjukkan yodium dalam urine murid perempuan SLTA masih tinggi. Median yodium dalam urine murid perempuan SLTA sampel masing-masing 212,5 mg/L, 174,0 mg/L, dan 129,0 mg/L, masing-masing di Gunung Kidul, Bukittinggi, dan Minahasa. Semua masih berada di atas batas 100 mg/L, yang menunjukkan bahwa wilayah yang bersangkutan tidak termasuk daerah kekurangan yodium.

Pertanyaan yang timbul adalah, kenapa dengan metode iodometri dan wet digestion hanya sedikit bahkan tidak ada sama sekali yodium yang dapat diidentifikasi dalam makanan dengan bumbu cabai dan apalagi ditambah cuka? Secara kasar kedua metode ini menggunakan dasar reaksi kimiawi, yang mengakibatkan munculnya yodium bebas.

Yodium bebas inilah yang dideteksi, baik dengan titrasi maupun colorimetry. Pada saat KIO3 berada dalam garam pengujian, dengan kedua cara ini akan memberikan hasil yang sangat baik. Karena dalam reaksi dengan asam kuat akan timbul yodium bebas yang dapat dideteksi dengan titrasi, dengan amylum, atau dengan colorimetri.

Namun, begitu dicampur dengan bumbu yodium membentuk ikatan kompleks, apalagi cabai yang mempunyai rumus kimia yang panjang, sehingga penambahan asam kuat pun sebagian besar yodium tidak terurai bebas, akibatnya tidak bisa terdeteksi dengan titrasi maupun colorimetri. Padahal yodium tidak hilang atau rusak. Hal ini terbukti dengan pelabelan yodium dengan menggunakan radio isotop, ternyata yodium terdeteksi berada dalam makanan yang bersangkutan.

Namun, pertanyaan lain muncul apakah yodium yang terikat dalam garam kompleks dapat dimanfaatkan oleh tubuh? Lebih jauh lagi, walaupun dalam pengujian secara kimiawi yodium tidak dapat dideteksi, namun dalam tubuh yodium dapat diserap, terbukti dengan kadar yodium dalam urine yang masih di atas 100 mg/L. Walaupun demikian, memang tidak semua yodium dapat dideteksi hanya 90 persen dan penambahan cuka mengakibatkan yodium yang terdeteksi hanya tinggal 77 persen. Namun, 77 persen sudah cukup memenuhi kebutuhan yodium bila digunakan garam dengan kadar yodium 30 ppm.

Kesimpulannya adalah bila digunakan garam dengan kadar yodium 30 ppm, maka konsumsi yodium 165 mg per orang per hari, yang masih lebih tinggi dari kebutuhan 150 mg per hari, walaupun ibu memasak dengan cara memasukkan garam selama proses pemasakan (tidak harus ditunggu setelah yang dimasak matang).

Februari 2, 2008 at 1:42 pm Tinggalkan komentar

Mengapa pakaian lembab lebih mudah disetrika?

Semua kain (dalam bahasa Kimia biasanya polimer) mempunyai struktur yang sama. Analogi yang baik untuk strukturnya adalah semangkok mie yang telah dimasak dengan tiap untai mie mewakili molekul polimer plastik. Molekul-molekul polimer dalam plastik seperti untai-untai mie saling berbelit. Pada suhu rendah untai-untai molekul itu mengeras dan plastik nampak padat dan rapuh, seperti gelas (barangkali mirip mie yang belum direbus).

Dengan pemanasan, molekul-molekul yang seperti mie dalam plastik tadi mulai meliuk-liuk, dan tergelincir satu sama lain dan akhirnya pada suhu cukup tinggi bergerak dan mengalir serentak. Jadi tidak seperti bahan bukan plastik yang tegas suhu perubahan padat ke cairnya (misalnya es tepat pada suhu 0oC, secara tegas meleleh dari padat ke cair), plastik berubah perlahan dari padatan ke cairan.

Kalau pada bahan non-plastik kita kenal titik leleh (suhu saat perubahan padat menjadi cair), pada bahan plastik dikenal suhu transisi gelas (biasa diberi simbol Tg). Tg adalah suhu saat peningkatan kemudahan-alir plastik mulai terjadi. Nilai Tg bergantung jenis plastiknya dan dapat diturunkan nilainya dengan bahan yang disebut plastisiser.

Contoh nyata dari apa yang kita diskusikan di atas adalah:

  1. ketika kita harus membersihkan sisa permen karet di karpet. Kita telah merasakan sukarnya mengambil sisa permen karet dari karpet tersebut, karena permen tersebut melekat erat dengan karpet. Tapi bila kita dinginkan sisa permen itu dengan es agar berada di bawah Tg-nya, sisa permen tersebut akan pecah seperti padatan biasa.
  2. Kapas adalah polimer alam (berupa selulosa) dengan Tg = 225 oC. Air dapat berfungsi sebagai plastisiser kapas, sehingga dapat menurunkan Tg. Jadi dengan menyemprotkan sedikit air, kerutan pada kain yang terbuat dari kapas lebih mudah dihilangkan. Setelah dingin bentuk kain yang telah hilang kerutnya akan tetap.
  3. Dengan pelan tapi pasti kain katun akan menyerap air dari udara dan kembali ke keadaan lebih plastik dan dengan mudah kusut lagi. Dengan mencampurkan sedikit polimer lain poliester ke poli selulosa, menjadikan daya serap air kain berkurang.
  4. Nilon dan poliester memiliki Tg yang lebih rendah, akibatnya seterika yang digunakan pun tidak perlu terlalu panas.

Nah, ternyata menyetrika akan menjadi logis dengan kimia.

Februari 2, 2008 at 1:39 pm Tinggalkan komentar

Mengapa sebagian Logam dapat ditempa, sedang lainnya tidak ?

Kita dapat membeli aluminium foil, tembaga, timbal, emas, perak. Tapi tak akan pernah Anda dapat peroleh seng foil. Sama seperti kita dapat beli kawat nikel, krom dan besi, namun tak akan didapat kawat kobal. Mengapa demikian ?

Jawabannya ada pada bagaimana atom-atom logam tersebut tersusun dalam padatannya. Dalam padatan logam, atom-atomnya tersusun terjejal. Dalam suatu bidang tertentu susunan terjejal adalah susunan dengan satu atom dikelilingi oleh 6 atom tetangga. Tetapi dalam ruang ada dua kemungkinan membuat susunan terjejal seperti terlihat pada gambar berikut.

Kita lihat pada gambar paling kiri susunan terjejal tidak hanya nampak di satu bidang, tapi di keempat arah. Pada dua gambar paling kanan, sebaliknya susunan terjejal hanya pada satu bidang saja, yakni di bidang tegak lurus bidang gambar. Pada saat logam ditempa atau ditarik dijadikan kawat, bidang-bidang inilah yang bergerak.

Februari 2, 2008 at 1:37 pm Tinggalkan komentar

Konsumen Harus Jeli Deteksi Bahan Kimia

MENURUT pakar gizi Prof Ali Khomsan, yang menjadi alat deteksi awal dari keberadaan bahan kimia tambahan dalam makanan adalah kejelian konsumen. Masyarakat harus jeli untuk memastikan kandungan yang terdapat dalam label isi kemasan. Kasus keracunan makanan akibat bahan pengawet, sambungnya, terjadi akibat rendahnya kewaspadaan konsumen.

Kelengahan konsumen tersebut, katanya, diperparah dengan rendahnya pengawasan oleh aparatur yang menjadi pengawas keamanan pangan. Selain soal sumber daya manusia yang masih minim, lanjutnya, luas area yang harus dipantau juga terlalu luas.

“Selama ini, konsumen hanya terfokus dalam melihat persoalan kedaluwarsa,” katanya.

Kendala lain dalam mengawasi penggunaan bahan pengawet adalah peredaran bahan kimia tersebut bagi industri makanan rumahan yang jumlahnya sangat besar.

“Kalau industri besar harus memiliki responsibilitas serta tanggung jawab usaha,” sebutnya. Keracunan makanan, katanya, juga dikontribusikan buruknya kemasan produk.

Terkait dengan keberadaan bahan tambahan dalam makanan sebagai pengawet, Ali mengatakan, sesungguhnya hal tersebut tidak menurunkan status gizi makanan bila bahan pengawet tersebut memang ditujukan bagi bahan konsumsi.

“Yang banyak dipakai di pasaran adalah bahan pengawet murah meriah, namun buruk bagi kesehatan,” jelasnya.

Sebetulnya, lanjut Ali, tingkat gizi makanan dipengaruhi oleh cara pengolahan dan penyimpanan bahan pangan. Menyangkut soal jajanan anak sekolah, menurut Ali, kalau dipaparkan dalam jangka waktu panjang dapat mengakibatkan kanker.

“Bisa jadi di usia muda sekitar 30-40 tahun orang terkena kanker,” katanya.

Karena itu, dia menyarankan agar pemerintah dapat segera melakukan pendidikan serta penyuluhan bagi produsen makanan rumahan, sekaligus menjalankan penegakan hukum secara tegas.

“Pemerintah harus dapat memberikan efek jera bagi mereka yang membahayakan kesehatan publik dan generasi mendatang,” ungkapnya.

Peran sekolah dan orang tua dalam menyeleksi makanan bagi anak sekolah, sambungnya, dapat menjadi benteng utama dalam mencegah masuknya bahan pengawet berbahaya bagi anak-anak.

“Sebaiknya pihak sekolah harus mengelola kantin sekolah dengan baik, selain itu orang tua juga tetap menjalankan fungsi edukasi,” sambungnya.

Selain problem tersebut, Ali juga menyatakan, penyajian makanan dapat menurunkan indeks kecerdasan anak. Jika tidak berhati-hati memilih makanan sehat, gejala yang sering terjadi adalah diare. “Bila makanan terkena logam berat dari asap kendaraan bermotor, maka anak-anak rentan mengalami kemunduran kecerdasan,” paparnya.

Februari 2, 2008 at 1:34 pm Tinggalkan komentar

Pos-pos Lebih Lama


Tulisan Terakhir

Blog Stats

  • 1,136 hits
Desember 2017
M S S R K J S
« Feb    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31